Jadilah guru yang selalu dirindukan oleh siswanya. Hadirkan kasih sayang penuh ketulusan untuk siswa-siswi kita
Selasa, 22 Desember 2015
Permainan Toss Perkalijab
KARYA ILMIAH
PENERAPAN PERMAINAN TOSS PERKALIJAB UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IVA SDIT RABBI RADHIYYA MATERI OPERASI HITUNG PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KABUPATEN REJANG LEBONG
Disusun oleh :
Nama : RAJAB EFFENDI
NIM : 825472149
Program Studi : S-1 PGSD
Pokjar : Curup, Rejang Lebong
Masa Regsitrasi : 2015.2
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS TERBUKA
UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH BENGKULU
2015
ABSTRAK
Penerapan Permainan Toss Perkalijab Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IVB SDIT Rabbi Radhiyya Materi Operasi Hitung Pada Mata Pelajaran Matematika Kabupaten Rejang Lebong
Oleh Rajab Effendi/825472149
Kata Kunci : Hasil Belajar dan Permainan Toss Perkalijab
Proses pendidikan yang berlangsung di sekolah adalah proses interaksi dari beberapa komponen pendidikan seperti guru, siswa, sumber belajar, kurikulum, dan sarana pembelajaran lain. Tujuan pembelajaran dapat berupa pencapaian suatu kompetensi, penguasaan materi, atau pengembangan minat dan bakat. Salah satu tujuan guru melaksanakan pembelajran dikelas adlah untuk meningkatkan hasil dan motivasi belajar siswa didiknya. Peningkatan hasil dan motivasi belajar siswa biasanya digunakan sebagai salah satu indicator bahwa proses pembelajaran telah berhasil. Dengan demikian sala satu yang penulis temukan dalam proses pembelajaran yang penulis coba terapakan untuk meningkatakn hasil dan motivasi belajar yaitu dengan penerapan permainan toss perkalijab untuk meningkatakan pemahaman perkalian siswa kelas IVA SDIT Rabbi Radhiyya Curup
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana mengatasi kesulitan pembelajaran matematika khususnya pada pokok bahasan perkalian terutama dalam mengingat perkalian 1-10. Jenis penelitian ini adalah Penelitian indakan Kelas (PTK) dengan 2 siklus, Dimana proses penelitian ini berdasarkan empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.
Penelitian ini menghasilkan adanya peningkatan hasil belajar siswa pada pokok bahasan operasi hitung, Terilihat pada persentase setiap siklusnya yaitu prasiklus 68,8 %, Siklus 1 : 74,8 % dan Siklus 2 80 %. Jadi dengan demikian penerapan permaian toss perkalijab ini dapat digunakan dalam proses pembelajaran.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Proses pendidikan yang berlangsung di sekolah adalah proses interaksi dari beberapa komponen pendidikan seperti guru, siswa, sumber belajar, kurikulum, dan sarana pembelajaran lain. Adanya interaksi antar komponen pendidikan tersebut bertujuan untuk membelajarkan siswa agar mampu mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Tujuan pembelajaran dapat berupa pencapaian suatu kompetensi, penguasaan materi, atau pengembangan minat dan bakat.
Pembelajaran di sekolah saat ini masih banyak bersifat konvensional. Pembelajaran masih menerapkan teacher centered approaches di mana guru masih menjadi pusat informasi bagi siswa. Pola pembelajaran ini lebih mengedepankan keaktifan guru dari pada siswa. Guru masih banyak yang menganggap pembelajaran di kelas hanya untuk menuntaskan materi yang ada di buku atau sebatas pencapaian kompetensi dasar. Siswa kurang diberi kesempatan untuk lebih aktif dalam pembelajaran guna mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Salah satu unsur yang sangat penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran adalah penggunaan media sebagai alat bantu dalam kegiatan pembelajaran. Penggunaan media tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang baru dan kongkrit namun juga dapat menjadi alat bantu agar siswa dapat mengkontruksikan kemampuan yang telah dimiliki siswa sebelumnya.
Seperti yang dinyatakan Hamalik dalam Arsyad (2009: 15) bahwa pemakaian media dalam proses pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan, bahkan membawa pengaruh psikologis terhadap siswa. Selain itu fungsi media dalam kegiatan pembelajaran tidak hanya sebagai alat bantu guru melainkan sebagai pembawa informasi atau pesan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Hasil pengamatan terhadap proses pembelajaran di kelas IV SDIT Rabbi Radhiyya, menunjukkan bahwa pemanfaatan media pembelajaran yang dilaksanakan masih sangat minim, pelaksanaan proses pembelajaran masih satu arah yaitu dari guru ke murid dan guru menjadi sumber informasi bagi siswa. Selain itu aktivitas siswa dalam proses pembelajaran rendah. Siswa tampak pasif dan lebih banyak kegiatan mendengarkan informasi yang disampaikan guru kemudian mengerjakan latihan yang diberikan oleh guru.
Penggunaan media belajar yang kurang menarik menyebabkan siswa lebih cepat bosan dan kurang termotivasi dalam belajar. Penggunaan media belajar tampak kurang memperhatikan berbagai unsur yang dapat menarik dan meningkatkan motivasi siswa, seperti adanya unsur permainan dan kompetisi yang menantang siswa untuk berlomba.
Beberapa permasalahan yang dialami oleh siswa di atas pada akhirnya menyebabkan siswa mendapatkan nilai atau prestasi belajar yang rendah. Hal ini tampak dari rendahnya motivasi siswa pada pembelajaran Matematikat terutama pada materi perkalian yang diujicobakan kepada siswa. Hasil tes menunjukkan bahwa sebagian besar siswa malas belajar Matematika karena banyaknya siswa yang belum hapal perkalian
Rendahnya motivasi aktivitas dan prestasi belajar siswa pada pembelajaran Matematika materi perkalian merupakan masalah yang harus dipecahkan oleh guru. Temuan dilapangan hal ini disebabkan siswa tidak hapal perkalian. Oleh karena itu penulis mencoba pemanfaatan media permainan melalui permain toss perkalijab untuk mengatasi masalah pembelajaran di atas dan diharapkan dapat memberi solusi yang tepat terhadap masalah pembelajaran tersebut.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakan permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran penulis diskusi dengan teman sejawa untuk engidentifikasi maka diperoleh permasalahanya sebagai berikut:
Hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika dibawah KKM yaitu 70 dikategorikan rendah
Anak belum berani bertanya untuk hal yang belum jelas kepada guru.
Siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran berlangsung.
Siwa banyak yang belum hapal materi perkalian sehingga sat menjawab soal mengalami kesulitan
Analisa Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dari hasil refleksi dengan teman sejawat ditemukan kendala-kendala yang dihadapi, dan diketahui bahwa faktor penyebab rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap meteri pelajaran Matematika adalah sebagai berikut :
Model pembelajaran kurang tepat sehingga rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika
Untuk meningkatkadan n motivasi hasil belajar, Serta daya ingat perkalian siswa dalam mejawab soal maka diterapkanlah media pembelajaran melalui permainan toss perkalijab.
Sebagai akibat kurang maksimal dalam menggunakan alat atau media pembelajaran maka siswa kurang termotivasi dan aktif dalam proses pembelajaran.
Alternatif dan prioritas pemecahan masalah
Mengacu pada permasalahan yang muncul dalam pembelajaran siswa khususnya pada pembelajaran Matematika yang telah diuraikan pada latar belakang, penulis memilih suatu alternatif pendekatan pemecahan masalah yang dianggap dapat mengatasi permasalahan dengan hasil yang baik yaitu dengan menerapkan metode permainan “Toss Perkalijab” Mengapa pemainan ini yang penulis gunakan, karena penulis melihat sesuai dengan latar belakang yang telah ditemukan dilapangan penulis melihat banyak guru yang kebingunan menemukan teknik memberikan pemahaman dalam meningkatkan hapalan perkalian siswa dan perlu kita ketahui bahwa untuk konsep hapalan perkalian itu dimulai dari kelas tiga. Hal ini juga dasar penulis mengenalkan lebih dekat konsep perkalian melalui permainan,sehingga permainan ini nanti dapat memudahkan siswa dalam mengingat perkalian.
Rumusan Masalah
Apakah media permaanan toss perkalijab dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siswa kelas IV SDIT Rabbi Radhiyya Curup Tahun Ajaran 2015-2016
Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Tujuan
Tujuan Umum:
Sebagai bentuk inovasi dan kreativitas di bidang pembelajaran Matematika, terutama dalam hal menciptakan media pembelajaran yang bermanfaat pada pembelajaran Matematika.
Sebagai salah satu bentuk pilihan permainan diantara permainan lain yang sudah ada, yang bersifat mendidik dan kental dengan nuansa Matematika, yang selama ini masih jarang ditemui.
Tujuan Khusus
Merancang dan membuat media pembelajaran berupa permainan yang dikemas dengan toss perkalijab untuk meningkatkan Mengingat hapalan perkalian siswa kelas IVB SDIT Rabbi Radhiyyah Curup.
Mengevaluasi seberapa efektif hasil dan manfaat penggunaan Toss Perkalijab di dalam pembelajaran Matematika pada pokok bahasan Materi Perkalian kelas IV SDIT Rabbi Radhiyya sesuai dengan kriteria keefektifan yang ditetapkan.
Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagi berikut
Bagi peserta didik diharapkan bermanfaat dalam membantu mempermudah mengingat perkalian khususnya pada pokok bahasan perkalian serta diharapkan sekaligus meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.
Bagi guru sendiri diharapkan memancing kreativitas dan berinovasi dalam membuat model, media maupun pendekatan pembelajaran yang bisa mempermudah pembelajaran di kelas
Bagi sekolah diharapkan Toss Perkalijab bisa dijadikan salah satu media pelengkap pembelajaran Matematika.
Toss Perkalijab diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang tidak hanya sebagai media belajar matematika di kelas tetapi lebih jauh sebagai salah satu alternatif permainan yang mendidik selain yang sudah ada, misal: scrabble. Sejauh pengamatan penulis masih amat jarang terdapat permainan sejenis kartu yang menggunakan permainan Toss.
KAJIAN PUSTAKA
Pembelajaran Matematika
Istilah Matematika berasal dari bahasa Yunani "Mathematikos" yang berarti secara ilmu pasti, atau "Mathesis" yang berarti ajaran, pengetahuan abstrak dan deduktif, dimana kesimpulan tidak ditarik berdasarkan pengalaman keinderaan, tetapi atas kesimpulan yang ditarik dari kaidah-kaidah tertentu melalui deduksi (Ensiklopedia Indonesia). Sedangkan Hudojo (1988) dalam Gustini, D (2010), mengatakan bahwa “matematika.berkenaan dengan ide-ide/konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hierarkis dan penalarannya
Belajar matematika dengan menyenangkan, itu merupakan salah satu aspek yang ingin diwujudkan melalui metode PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan).
Sehubungan dengan ciri menyenangkan dalam PAKEM, Rose and Nocholl (2003) dalarn Anonim (2009), mengatakan bahwa pembelajaran yang menyenangkan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Menciptakan lingkungan tanpa stress (relaks), lingkungan yang aman untuk melakukan kesalahan, namun harapan untuk sukses tetap tinggi.
b. Menjamin bahwa bahan ajar itu relevan. Anda ingin belajar ketika Anda melihat manfaat dan pentingnya bahan ajar.
c. Menjamin bahwa belajar secara emosional adalah positif, yang pada umumnya hal itu teriadi ketika belajar dilakukan bersama orang lain, ketika ada humor dan dorongan semangat, waktu rehat dan jeda teratur serta adanya dukungan antusias.
d. Melibatkan secara sadar semua indera dan juga pikiran otak kiri dan otak kanan.
e. Menantang peserta didik untuk dapat berpikir jauh ke depan dan mengekspresikan apa yang sedang dipelajari dengan sebanyak mungkin kecerdasan yang relevan untuk memahami bahan ajar.
Kegiatan melakukan operasi perkalian dan pembagian bilangan 1-10 diberikan dengan suasana menyenangkan dan dilakukan sambil bermain, jadi anak tidak akan merasa bosan dan terbebani. Kegiatan melakukan operasi perkalian dan pembagian bilangan 1-10 bisa dilakukan bersama-sama dengan kegiatan lain yang telah digariskan sesuai dengan kurikulum sekolah dasar.
Konsep Perkalian dalam pembelajaran Matematika
Perkalian adalah operasi matematika penskalaan satu bilangan dengan bilangan lain. Operasi ini adalah salah satu dari empat operasi dasar di dalam aritmetika dasar (yang lainnya adalah perjumlahan, perkurangan, dan perbagian).
Perkalian terdefinisi untuk seluruh bilangan di dalam suku-suku perjumlahan yang diulang-ulang; misalnya, 3 dikali 4 (seringkali dibaca "3 kali 4") dapat dihitung dengan menjumlahkan 3 salinan dari 4 bersama-sama:.
Perkalian dapat juga digambarkan sebagai pencacahan objek yang disusun di dalam persegi panjang (untuk semua bilangan) atau seperti halnya penentuan luas persegi panjang yang sisi-sisinya memberikan panjang (untuk bilangan secara umum). Balikan dari perkalian adalah perbagian: ketika 3 kali 4 sama dengan 12, maka 12 dibagi 3 sama dengan 4.
Perkalian diperumum ke jenis bilangan lain (misalnya bilangan kompleks) dan ke konstruksi yang lebih abstrak seperti matriks.
Permainan Toss Perkalijab
Istilah toss dalam bahasa asing berarti lemparan sedangkan perkali adalah operasi hitung dalam pembelajaran matematika. Konsep Permainan toss perkalijab yang peneliti temukan ini adalah konsep yang peneliti kreasikan sendiri melalui suatu jenis permainan anak-anak dimana permainan ini desebut dengan toss gambaran. Permainan tos ini biasanya anak-anak mengunakan kartu gambaran dilakukan dengan mengetoss kedua tangan masing masing bagi gambaran yang hidup makan pemain yang kalah berhak memberikan jumlah gambaran yang telah ditentuk biasanya permainan ini bebas. Toss perkalijab adalah permainan yang mengunakan kedua tangan masing masing pemain mengetos tangaya kepemain satu dengan aturan yang telah ditetapkan bedanya pada permainan tos yang anak-anak biasa gunakan. Kau permainan toss perkalijab mengunakan kartu perkali dimana kartu tersebut memuat kartu perkalian yang ditulis dikartu bagi pemaina yang kalah nanti akan memberikan jumlah kartu kepada pemenang sesuai jumlah hasil kali yang ada dikartu perkali. Perkalijab adalah istilah yang dikonsep penulis dengan arti toss adalah cara bermainanya, perkali adalah pokok bahasan dalam permainan, jab adalah penemu dari permainan toss perkalijab yaitu rajab. Dalam permainan toss perkalijam ada beberapa kartu yang perlu digunakan dalam permainan yaitu kartu toss perkalijab, bang soal perkalijab dan bonus perkalijab yang digunakan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Ahli pendidikan anak menyatakan bahwa cara belajar anak yang paling efektif adalah dengan bermain. Dalam bermain anak dapat mengembangkan otot besar maupun otot halusnya, meningkatkan penalaran, memahami lingkungan, membentuk daya imajinasi, dunia nyata, dan mengikuti tata tertib dan disiplin.
Secara ilmiah bermain memotivasi anak untuk mengetahui sesuatu lebih mendalam dan secara spontan anak mengembangkan kreativitasnya. Dengan bermain anak mendapat banyak informasi tentang peristiwa, orang, binatang, dan segala sesuatu yang ada disekitarnya. Anak punya kesempatan bereksperimen, memahami konsep-konsep sesuai dengan perkembangan anak.
Tentunya bermain toss perkalijab adalah permainan kreatif sambil berhitung. Anak- anak sambil bermain tanpa sadar belajar berhitung dasar manik-manik congkak
Dengan demikian dapat disimpulkan toss perkalijab adalah konsep permaianan yang mengunakan toss pada pokok perkalian dengan mengunakan kartu perkali, bang soal perkali dan bonus perkali yang diciptakan oleh rajab dengan peraturan yang telah ditentukan.
Adapun prosedur pertauran dalam permainan toss perkalijab adalah sebgai berikut :
Permainan toss perkalijab dilakukan secara berpasanagan.
Pemain menyediakan alat tulis selama permainan yang digunakan untuk menulis bang soal perkalijab.
Pemain masing-masing memiliki kartu Toss Perkalijab yang akan digunakan dalam bermain Toss.
Pemain harus mengetahui kartu-kartu yang dilarang dalam bermain yaitu perkaialai 4x9,4x10,5x8,5x9,5x10.
Pemain melaksanakan permainan dengan denga cara masing-masing pemain mengambil kartu sesuai selerah masing masing bebas mau kartu toss perkalijab yang jumlahnya besar maupun yang kecil.
Pemainan menempelkan ke telapak tangan masing kemudian melakukan Toss Perkalijab.
Pemain menyimak tata cara permainan yang disampaikan guru.Adapun tata cara permainanya adalah
Pemain wajib memilik pasangan
Pemain melakukan toss perkalijab
Bagi kartu tos perkalijab yang hidup maka pemain yang kalah berhak memberikan jumlah kartu yang dimiliki sebanyak jumlah nilai tossperkalijab. Misal kartu tertulis angka 2x2 hasilnya 4 jadi yang kalah berhak memberikan kartu sebanyak 4 kartu bebas, dilakukan secara terus.
8. Bagi pemain yang tidak bisa menjawab nilai angka yang akan dikeluarkan yang tertulis dikartu maka penulis diberikesempatan mencari melalui alat manual dengan kertas Guram Perkalijab. Namun dalam permainan ini pemain memiliki Bonus tabungan 3 poin dalam tos perkalijab. Jadi masing-masing memiliki kesempatan melihat bonus perkalijab hanya 3 x dalam permainan. Apabilah tidak mau mencari dengan jalan kertas Guram Perkalijab. Bagi pemain yang menang 3 x secara berurutan pemain berhak mendapat bonus 1 Poin yang bernilai 5 yang di simpan di banso tosperkali semakin banyak poin maka akan mendekati kemenangan dalam permaian yang akan dijumlahkan dengan skor nilai.
9. Setiap pemain wajib menuliskan jumlah nilai setiap kartu yang menang dalm kartu toss perkalijab
10. Permainan akan berakhir apabila pemain kehabisan kartu, kemudian masing-masing pemain menjumlahkan skor yang ada di banso toss perkalijab. Skor tertinggi menjadi pemenang dalam permaian TOSS PERKALIJAB dan berhak mendapat penghargaan berupa bonus bintang toss perkalijab yang akan direkomendasikan terhadap nilai mata pelajaran semakin banyak bintang maka semakin tinggi nilai mata pelajaran.
Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar (Anni, 2004). Hasil belajar yang dimaksud dalam penulisan ini adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah memperoleh pengalaman belajar. Pengalaman belajar yang diberikan berkenaan dengan penggunaan media pembelajaran kemistripoli dan cara konvensional pada pengajaran materi Konsep Mol. Hasil belajar pada penulisan ini hanya berkenaan dengan hasil belajar pada ranah kognitif (pengetahuan).
Bloom dalam Setyowati (2007) menggolongkan hasil belajar ke dalam tiga ranah, yaitu:
Ranah kogitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek, yakni pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan penilaian.
Ranah afektif, berkenaan dengan hasil belajar sikap yang tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku spserti perhatiaannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai tutor dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan hubungan sosial. Dalam hal ini sikap diartikan sebagai reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang datang kepada dirinya. Ada tiga komponen sikap, yakni kognisi, afeksi dan konasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan tentang objek atau stimulus yang dihadapinya, afeksi berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan berbuat kepada objek tertentu, misal sikap siswa terhadap mata pelajaran kimia.
Ranah psikomotorik, berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ranah psikomotoris dapat dilihat dari kegiatan atau aktivitas yang dilakukan peserta didik selama proses belajar mengajar berlangsung.
Tolak ukur untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam belajar adalah dengan hasil belajar yang telah dicapai oleh peserta didk selama mengikuti proses belajar mengajar. Hasil belajar merupakan kegiatan banyaknya perubahan yang terjadi setelah proses belajar selesai jika dibandingkan dengan keadaan seseorang sebelum melakukan kegiatan belajar (Depdikbud dalam Delila, 2010). Hasil belajar bisa dikatakan baik apabila banyak terjadi perubahan positif (dalam hal kualitas dan bobotnya) pada diri seseorang yang diakibatkan oleh kegiatan belajar.
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
Subyek , Tempat, waktu dan Pihak yang Membantu dalam Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SDIT Rabbi Radhiyya Curup Kecamatan Curup Tengah Kabupaten Rejang Lebong pada tahun pelajaran 2015/2016. Ruang lingkup dari penelitian tindakan kelas ini, yaitu membahas permasalahan tentang penerapan penerapan permainan toss perkalijab untuk meningkatkan motivasi hasil belajar dalam mengingat perkalian siswa dikelas IVA SDIT Rabbi Radhiyya Curup
Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas IVA SDIT Rabbi Radhiyya Curup tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 25 orang siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Waktu penelitian dilaksanaka pada semester ganjil tahun ajaran 2015-2016 pada bulan Oktober dan November dilaksanakan sebanyak 2 sklus. Pihak yang membantu dalampenelitian ini adalah kepala sekolah guru, siswa dan teman sejawat.
Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau ClassroomAction Research (CAR) yaitu suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara lebih professional.
Desain penelitian ini menggunakan model Kemmis dan Tagart dengan tahapan perencanaan, tindakan dan pengamatan serta refleksi untuk setiap siklus.
Penjelasan dari alur desain Kemmis dan Tagart sebagai berikut:
Siklus I
a. Proses Perencanaan (Planning)
Ada tahap perencanaan ini peneliti berupaya menyusun beberapa rencana yang digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran, rencana tersebut adalah
Mengadakan refleksi atas pembelajaran yang dilaksanakan dengan mencatat kelemahan maupun kekurangan serta hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran, kemudian didiskusikan dengan teman sejawat dan dikonsultasikan kepada supervisor. Dari 24 siswa yang memperoleh nilai tuntas hanya 7 orang, penyebab kegagalan tersebut diduga karena guru kurang bervariasi dalam menerapkan metode dan minat belajar siswa yang masih kurang
Mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang akan dilaksanakan.
Merancang sarana dan prasarana pembelajaran tentang “Melakukan Operasi Perkalian dan Pembagian bilangan 1-100, yaitu papan dakon dan manik-manik
Menyusun rencana perbaikan pembelajaran dan lembar observasi.
Meminta bantuan kepada teman sejawat untuk mengamati proses perbaikan pembelajaran.
b. Proses Pelaksanaan (Acting)
Langkah-langkah pelaksanaan perbaikan pembelajaran peningkatan kemampuan melakukan perkalian dan pembagian bilangan 1-10 dengan menggunakan permainan toss perkalijab sebagai berikut:
1. Kegiatan Awal (5 menit)
- Mengucapkan salam
- Mengabsen siswa
- Menyiapkan media pembelajaran
a. Mengadakan apersepsi
Contoh : Sebutkan jenis-jenis operasi hitung !
b. Orientasi : Coba sebutkan contoh-contoh perkalian dan pembagian bilangan 1-10!
c. Motivasi : Mengajak anak untuk menyebutkan contoh-contoh perkalian dan pembagian bilangan 1-10
2. Kegiatan Inti (20 menit)
a. Eksplorasi
Guru menjelaskan secara singkat jenis-jenis operasi hitung
Guru menuliskan contoh-contoh operasi hitung perkalian bilangan 1-10
Guru menuliskan contoh-contoh operasi hitung pada bilangan kelipatan 10 dengan bilangan dua angka dalam perkalian.
Guru menuliskan contoh-contoh operasi hitung pada bilangan tiga angka dengan bilangan satu angka dalam perkalian
Guru melakukan Tanya Jawab tentang operasi hitung perkalian bilangan
3. Kegiatan Penutup (10 menit)
Memberikan rangkuman hasil Tanya jawab untuk dicatat.
Memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan dirumah.
Memberikan tes soal-soal secara tertulis.
Memberikan tugas mandiri bagi siswa yang mengalami perbaikan
c. Proses Pengamatan (Observing)
Pada tahap pengamatan peneliti meminta bantuan kepada teman sejawat untuk mengamati jalannya pembelajaran dan mencatat kegiatan. Adapun kegiatannya adalah :
- Observer mengamati jalannya pembelajaran dan mencatat kekurangan maupun kelemahan untuk didiskusikan.
Observer mengamati kegiatan siswa dan kegiatan guru.
- Data diperoleh dari hasil ulangan tes formatif dengan pokok bahasan “Melakukan operasi perkalian dan pembagian bilangan 1-10” dengan instrumen berupa soal tes formatif yang terdiri atas pilihan ganda, isian dan uraian singkat dilengkapi dengan pedoman penilaian.
d. Proses Analisis dan Refleksi (Reflecting)
Setelah peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus I kemudian mengadakan refleksi mengangan-angan kekurangan maupun kelemahan dalam proses pembelajaran, meskipun sudah diadakan perbaikan namun masih mengalami kegagalan dan belum berhasil secara maksimal. Dari 29 siswa yang memperoleh nilai tuntas baru 20 orang, sehingga untuk mencapai hasil yang maksimal guru harus mengadakan perbaikan kembali melalui siklus II. Kegagalan tersebut diduga karena penerapan metode yang masih belum dipahami sepenuhnya oleh siswa dan media pembelajaran yang masih asing bagi siswa
Siklus II
Setelah melaksanaan perbaikan pembelajaran melalui siklus I belum berhasil, maka peneliti mengadakan perbaikan kembali melalui siklus II yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/pengumpulan data/instrument, serta analisis dan refleksi.
a. Proses Perencanaan (Planning)
Pada tahap perencanaan ini peneliti menyusun beberapa rencana yang digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran tahap II, rencana tersebut adalah:
- Mengadakan refleksi atas pembelajaran pada siklus I yang dilaksanakan dengan mencatat kelemahan maupun kekurangan serta hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran, kemudian didiskusikan dengan teman sejawat dan dikonsultasikan kepada supervisor. Dari 25 siswa yang memperoleh nilai tuntas baru 13 orang, penyebab kegagalan tersebut diduga karena banyak siswa keliru dalm menjawab soal dikarenakan lupa perkalian oleh karena itu hasil belajar siswa masih belum maksimal.
Mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang akan dilaksanakan.
Merancang sarana dan prasarana pembelajaran tentang “Melakukan Operasi.
Menyusun rencana perbaikan pembelajaran dan lembar observasi.
Meminta bantuan teman sejawat untuk mengamati proses pembelajaran
b. Proses Pelaksanaan (Acting)
Langkah-langkah pelaksanaan perbaikan pembelajaran peningkatan kemampuan melakukan perkalian dan pembagian bilangan 1-10 dengan menggunakan permainan toss perkalijab sebagai berikut:
1. Kegiatan Awal (5 menit)
Mengucapkan salam
Mengabsen siswa
Menyiapkan media pembelajaran
a.Mengadakan apersepsi
Contoh : Sebutkan jenis-jenis operasi hitung !
b. Orientasi : Coba sebutkan contoh-contoh perkalian dan pembagian bilangan 1-10!
c. Motivasi : Mengajak anak melakokan hypnoterafy motivation
2. Kegiatan Inti (20 menit)
a. Eksplorasi
Guru menjelaskan secara singkat jenis-jenis operasi hitung.
Guru menuliskan contoh-contoh operasi hitung perkalian bilangan 1-10
Guru menuliskan contoh-contoh operasi hitung pembagian bilangan 1-10.
Guru melakukan Tanya jawab tentang operasi hitung perkalian dan pembagian bilangan 1-10.
Guru membagi lembar soal latihan dan membimbing secara bergantian.
b. Elaborasi
Guru mengelompokkan siswa, setiap kelompok terdiri dari 2 siswa untuk melakukan permainan dakon.
Guru membimbing siswa untuk lebih fokus melakukan operasi perkalian dan pembagian bilangan 1-10 menggunakan manik-manik dan lubang dakon.
Guru membantu siswa untuk melakukan operasi perkalian dan pembagian bilangan 1-10 pada lembar soal latihan yang sudah diberikan
c. Konfirmasi
Guru bersama siswa membuat rangkuman tentang operasi hitung perkalian dan pembagian bilangan 1-10
3. Kegiatan Penutup (10 menit)
a. Memberikan rangkuman hasil Tanya jawab untuk dicatat.
b. Memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah.
c. Memberikan tes soal-soal secara tertulis
d. Memberikan tugas mandiri bagi siswa yang mengalami perbaikan.
c. Proses Pengamatan (Observing)
Pada tahap pengamatan peneliti meminta bantuan kepada teman sejawat untuk mengamati jalannya pembelajaran dan mencatat kegiatan. Adapun kegiatannya adalah :
Observer mengamati jalannya pembelajaran dan mencatat kekurangan maupun kelemahan untuk didiskusikan.
Observer mengamati kegiatan siswa dan kegiatan guru.
Data diperoleh dari hasil ulangan tes formatif dengan pokok bahasan “Melakukan operasi perkalian bilangan 1-10” dengan instrumen berupa soal tes formatif yang terdiri atas pilihan ganda, isian dan uraian singkat dilengkapi dengan pedoman penilaian.
d. Proses Analisis dan Refleksi (Reflecting)
Refleksi pada siklus II dilaksanakan dengan maksud untuk mengukur ketercapaian hipotesi tindakan pembelajaran sudah tercapai atau belum. Ternyata setelah pembelajaran siklus II berakhir dengan mengoptimalkan penggunaan alat pelajaran, berupa alat bermain toss perkalijab penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dapat lebih meningkat dan memperoleh hasil yang memuaskan. Belajar dari pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus I dimana perhatian siswa hanya tertuju pada permainan dakon, maka pada siklus II guru melakukan refleksi dengan memfokuskan siswa pada materi operasi perkalian bilangan 1-10 dengan memberikan lembar-lembar soal yang harus dikerjakan siswa dan diberi batas waktu. Sehingga dari 25 siswa yangmemperoleh nilai tuntas sejumlah 22 siswa. Jadi tidak perlu diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus III
Teknik Analisis Data
Penilaian Hasil Ketuntasan Belajar Siswa Pada mata pelajaran Matematika
Ketuntasan Belajar Klasikal
KB = (NS x 100%)/N
Dimana: KB = Ketuntasan belajar klasikal
NS = Jumlah nilai seluruh siswa
N = Jumlah Siswa
(Arikunto, 2002)
Kriteria Penerapan Kebermanfaatan Alat melalui hasil belajar siswa
Dalam penggunaan penerapan permaina toss perkalijab ditetapkan kriteria-kriteria untuk menetapkan apakah penggunaan permainan ini cukup efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Kriteria yang harus dipenuhi adalah
Secara klasikal 85 % siswa memperoleh nilai ≥ Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Standar SDIT pada Mata Pelajaran Matematika ≥ 70)
Penilaian Aktivitas Belajar Siswa
Kriteria penilaian untuk setiap aspek yang diamati pada lembar observasi ditunjukkan dengan Tabel berikut:
Tabel 1. Kriteria Penilaian untuk Lembar Observasi
Keterangan Skor Nilai
5 = Sangat Baik 50 Sangat Baik
4 = Baik 40 - 49 Aktif
3 = Cukup Baik 30 - 49 Cukup Aktif
2 = Kurang Baik 20 - 29 Kurang Aktif
1 = Tidak Baik 10 - 19 Tidak Aktif
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Per Siklus
Berdasarkan identifikasi serta rumusan masalah, berikut akan peneliti uraikan secara singkat dan sederhana tentang hasil-hasil perbaikan yang telah dilakukan dalam dua siklus. Uraian secara lengkap sebagai berikut.
Siklus I
a. Data tentang Perencanaan
Dalam tahap perencanaan, peneliti mengadakan refleksi atas pembelajaran yang dilaksanakan, kemudian mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang akan dilaksanakan. Peneliti juga merancang sarana dan prasarana pembelajaran, yaitu kartu-kartu toss perkalijab, bangsoal perkalijab. Dalam rencana perbaikan pembelajaran disusun lembar observasi/pengamatan bagi pengamat. Data selengkapnya terlampir.
b. Data tentang Pelaksanaan
Perbaikan pembelajaran dilaksanakan pada hari Senin, 30 Oktober 2015. Materi yang diajarkan adalah Melakukan Perkalian bilangan 1-10 dengan menggunakan permainan toss perkalijab sesuai dengan rencana perbaikan pembelajaran siklus I.
Proses pembelajaran dilaksanakan secara bertahap yang diawali menjelaskan materi dan prosedur permainan toss perkalijab. Hasil pembelajaran dianalisis untuk menentukan apakah upaya perbaikan pembelajaran tersebut berhasil atau tidak. Sebelum dilakukan perbaikan pembelajaran peneliti telah melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dilaksanakan tanpa melakukna permainan toss perkalijab.
Hasil data sebelum perbaikan pembelajaran siklus I disajikan dalam tabel dan grafik sebagai berikut :
Tabel 2
Hasil Evaluasi siklus
No. Rentang Nilai Jumlah Siswa
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12 40 -44
45 -49
50 -54
55 -59
60 -64
65 -69
70 -74
75 -79
80 -84
85 -89
90 -94
95 -100 1
-
8
1
3
-
6
2
-
-
6
-
Jumlah 25
Gambar 1.
Grafik Diagram batang Hasil evaluasi Pra siklus
Dari data tabel dan grafik 1 di atas terbaca bahwa nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 40 sedangkan yang tertinggi adalah 90. Data nilai perolehan siswa tersaji dalam 12 rentang nilai. Daftar nilai hasil pembelajaran pra siklus I dan siklus I terlampir (Lampiran 5).
Melihat dari hasil penelitian di atas, maka hal tersebut mendoorng peneliti untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus I dengan menggunakan permainan toss perkalijab. Hasil dari evaluasi pada akhir siklus I mengalami peningkatan. Data hasil penelitian dapat dilihat pada tabel dan grafik 2 berikut ini :
Tabel 3
Hasil Evaluasi Siklus I
No. Rentang Nilai Jumlah Siswa
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 60 - 63
64 - 67
68 - 71
72 - 75
76 - 79
80 - 83
84 - 87
88 - 91
92 - 95
96 – 100 7
1
5
5
-
1
2
1
3
-
Jumlah 25
Gambar 1.
Grafik Diagram batang Hasil evaluasi siklus I
Pada perbaikan pembelajaran Siklus I perolehan nilai terendah siswa adalah 60 dan tertinggi adalah 95. Penyajian data nilai tersaji dalam 10 rentang nilai terlihat pada table dan grafik batang di atas. Daftar nilai hasil pembelajaran pra siklus I dan siklus I terlampir (Lampiran 5).
c. Data tentang Observasi/Pengamatan
Berdasarkan dari observasi/pengamatan yang telah dilakukan, diperoleh temuan sebagai berikut :
Beberaa siswa masih belum memahami prosedur permainan toss perkalijab
Siswa masih minder karea ada beberapa siswa yang belum hapal perkalian
Siswa sudah cukup aktif tapi belum maksimal
Dengan menggunakan permainan toss perklaijab kemampuan melakukan perkalian siswa mengalami peningkatan walaupun mereka mash bingung dengan prosedur permainan.
Data hasil observasi/pengamatan terlampir
d. Data tentang Refleksi
dari hasil pengamatan tabel dan grafik 1 dan 2 terdapat perbedaan pergerakan batang yang merupakan bentuk perolehan nilai siswa. Grafik tersebut sudah menunjukkan nilai tes formatif siswa meningkat. Tetapi hasilnya kurang memuaskan. Pada umumnya siswa belum mampu banyak mengingat operasi perkalian dan bilangan 1-10 dengan benar. Hal ini disebabkan : 1) Siswa masih merasa asing dengan permainan toss perkalijab, sehingga ketika permainan ini pertama kali diterapkan perhatian mereka tertuju pada permainan toss perkalijab bukan pada materi yang diberikan guru, 2) Guru tidak membatasi waktu pengerjaan soal yang sudah dibagikan kepada siswa.
Karena hasilnya belum memuaskan kemudian peneliti mengambil tindakan untuk mengadakan perbaikan pembelajaran melalui siklus II. Dan akan melakukan usaha memfokuskan perhatian siswa pada materi operasi perkalian bilangan 1-10 melalui permanan dakon. Selain itu guru akan membatasi waktu pengerjaan soal sehingga siswa tidak hanya sibuk bermain.
Siklus II
Data tentang Perencanaan
perencanaan tindakan pada siklus II dilaksanakan berdasarkan dari hasil refleksi yang peneliti lakukan pada siklus I. Untuk mencapai 80% ketuntasan belajar matematika pada materi operasi perkalian dan pembagian bilangan 1-10 siswa kelas IVA SDIT Rabbi Radhiyya Tahun Ajaran 2015/2016, peneliti berupaya melakukan perbaikan pembelajaran melalui siklus II dengan mengoptimalkan metode dan media pembelajaran.
Dalam tahap perencanaan ini, merancang sarana dan prasarana pembelajaran, yaitu papan dakon dan manik-manik. Juga membuat lembar observasi/pengamatan bagi pengamat. Data selengkapnya terlampir
Data tentang Pelaksanaan
Perbaikan pembelajaran dilaksanakan pada hari Senin, 6 November –2015. Materi yang diajarkan adalah Melakukan Operasi Perkalian bilangan 1-10 dengan menggunakan alat permainan toss perkalijab yang disesuai dengan rencana perbaikan pembelajaran siklus I.
Proses pembelajaran dilaksanakan secara bertahap yang diawali dengan demonstrasi dan diakhiri dengan mengulas kegiatan dan evaluasi. Hasil pembelajaran dianalisis untuk menentukan apakah upaya perbaikan pembelajaran tersebut berhasil atau tidak.
Usaha mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran dalam perbaikan pembelajaran pada Siklus II dimaksudkan sebagai upaya mebantu siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa mudah untuk melakukan operasi perkalian 1-10 yang akhirnya bisa mencapai hasil belajar secara optimal.
Setelah melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II, peneliti mengumpulkan data-data hasil pembelajaran, menganalisis, melakukan refleksi dan mendiskusikan dengan teman sejawat, dari kegiatan tersebut terekam kegiatan kondisi pembelajaran yang mengarah pada peningkatan. Peningkatan tersebut meliputi aktifitas guru maupun siswa dalam proses pembelajaran, serta hasil evaluasi diakhir pembelajaran. Peningkatan dimaksudkan dapat dijelaskan sebagai berikut :
Ada relevansi antara permainan dengan materi. Dalam hal ini siswa dalam proses pembelajaran melal permainan toss perkalijab lebih dapat mengingat perkalian sehingga aak saat melaukan permainan anak belajar mengingat kembali materi perkalian.
Media dapat meningkatkan kreatifitas siswa. Sebab dengan melakukan permainan toss perkaliab siswa dapat mengingat operasi perkalian bilangan 1-10 dengan cara mereka sendiri.
Metode demonstrasi dan penggunaan media tersebut ternyata memberikan dampak yang cukup positif bagi keberhasilan siswa dalam menguasai konsep.
Ternyata setelah diadakan tes formatif hasilnya mengalami peningkatan. Perolehan nilai ketuntasan belajar sudah meningkat.
Selanjutnya, data peningkatan tersebut disajikan pada tabel dan grafik 3 berikut ;
Tabel 4
Hasil Evaluasi Pembelajaran Siklus II
No. Rentang Nilai Jumlah Siswa
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 60 - 63
64 - 67
68 - 71
72 - 75
76 - 79
80 - 83
84 - 87
88 - 91
92 - 95
96 - 100 2
2
3
3
-
7
3
1
1
4
Jumlah 25
Gambar 3.
Grafik Diagram batang Hasil evaluasi siklus II
Dari tabel dan grafik 3 di atas terlihat bahwa nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 65, sedangkan nilai tertinggi 100. Data perolehan nilai hasil evaluasi tersaji dalam 6 kelas interval sebagai berikut :
Pada grafik 3 terlihat perbedaan yang sangat mencolok pergerakan pada batang kelas interval pertama, kedua dan ketiga. Pergerakan batang pada grafik naik dari kelas interval terendah ke kelas interval tertinggi. Keadaan ini menggambarkan adanya peningkatan hasil belajar pada perbaikan pembelajaran Siklus II.
Peningkatan hasil evaluasi belajar mulai dari pembelajaran pra siklus sampai pada perbaikan pembelajaran siklus II, dapat pula dijelaskan sebagai berikut :
Hasil evaluasi pra siklus
Rata-rata nilai : 64.80
Siswa yang tuntas : 13
Siswa yang belum tuntas : 12
Prosentase ketuntasan : 52 %
Hasil evaluasi siklus I
Rata-rata nilai : 74,80
Siswa yang tuntas : 18
Siswa yang belum tuntas : 7
Prosentase ketuntasan : 72 %
Hasil evaluasi silus II
Rata-rata nilai : 80.80
Siswa yang tuntas : 22
Siswa yang belum tuntas : 3
Prosentase ketuntasan : 88 %
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan oleh peneliti melalui permainan toss perkalijab dapat meingkatkan hasil belajar siswa.
Data peningkatan ketuntasan belajar siswa seperti diuraikan diatas dapat disajikan dalam tabel dan grafik 4 di bawah ini.
Tabel 5
Prosentase Ketuntasan Belajar
N0 Ketuntasan Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 Tuntas 13 52 % 18 72 % 22 88 %
2 Belum Tuntas 12 48 % 7 28 % 3 12 %
Gambar 4.
Grafik Diagram batang Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II
Secara kronologis, gambar 4 menggambarkan peningkatan yang terus terjadi sejak Siklus I sampai siklus II. Pada pembelajaran pra siklus ketuntasan hanya 52%. Pada pembelajaran Siklus I ketuntasan mencapai 72%, dan pada perbaikan pembelajaran siklus II mencapai 88%.
Sementara itu pada grafik juga terjadi penurunan yang berlangsung terus sampai pada perbaikan Siklus II. Jika pada pembelajaran pra siklus prosentase belum tuntas 48%, pada perbaikan pembelajaran siklus I turun menjadi 22% dan pada akhirnya tinggal 12%. Rekapitulasi daftar nilai hasil pembelajaran pra siklus, siklus I dan siklus II terlampir
c. Data tentang observasi/pengamatan
Berdasarkan dari hasil observasi/pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa guru telah melaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan yang direncanakan. Pada perbaikan pembelajaran siklus II ini guru sudah bisa mengoptimalkan metode dan media pembelajaran sehingga siswa lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran materi perkalian bilangan 1-10. Hasil dari kegiatan ini siswa sudah terlihat aktif dan sudah berani bertanya bila mengalami kesulitan. Hasil dari kegiatan ini siswa sudah terlihat aktif dan sudah berani bertanya bila mengalami kesulitan. Hasil observasi/pengamatan siklus II ini dapat dilihat pada lembar observasi/pengamatan siklus II ini dapat dilihat pada lembar observasi/pengamatan terlampir.
d. Data tentang Refleksi
sampai pada perbaikan pembelajaran siklus II yaitu dengan upaya lebih memfokuskan perhatian siswa pada materi dan pemberian batas waktu pengerjaan soal telah mampu mengantarkan pada prosentase ketuntasan 83%. Ini artinya masih ada 12% lagi yang masih memerlukan perbaikan. Dan ini berarti batas ketuntasan belajar matematika tentang operasi perkalian bilangan 1-10 yaitu 80% telah tercapai. Dengan pertimbangan tersebut dan beberapa hal maka tidak dilakukan perbaikan pembelajaran selanjutnya. Lebih lanjut 12% dari 25 siswa dalam satu kelas atau 3 orang siswa dalam satu kelas yang belum tuntas ini dibahas pada pembahasan tiap siklus.
Pembahasan Per Siklus
Siklus I
Sebelum melakukan perbaikan pembelajaran atau pra siklus I peneliti belum menerapkan permainan toss perkalijab. Sehingga hasil belajar matematika siswa kelas IVA SDIT Rabbi Radhiyya Kecamatan Curup Tengah tahun ajaran 2015/2016 hanya mencapai 52% yang tuntas. Melalui refleksi maupun penemuan, peneliti telah melaksanakan perbaikan pembelajaran. Dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I peneliti menerapkan pembelajaran permainan toss perkalijab. Dari siklus I sudah terjadi perubahan meskipun belum memuaskan. Hal ini terjadi karena metode yang digunakan tersebut belum sepenuhnya dipahami siswa sehingga kurang menunjang keberhasilan siswa.
Adapun media pembelajaran yang digunakan masih asing bagi siswa meskipun permainan toss perkalijab merupakan permainan yang sudah ada seperti dalam bentuk kartu gambaran biasa, namun bagi siswa zaman sekarang hal tersebut masih asing karena hampit tidak pernah lagi dimainkan. Ketika permainan ini dicoba perhatian siswa hanya tertuju pada permainan bukan pada materi sehingga hasil pembelajaran belum berhasil dengan maksimal. Yaitu dengan hasil yang dicapai dari 25 siswa yang memperoleh nilai tuntas hanya sejumlah 18 siswa.
Pada pelaksanaan siklus I kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru diamati oleh observer. Yang diobservasi diantaranya persiapan rencana pembelajaran, penjelasan konsep dasar materi dengan urut, penggunaan alat peraga yang belum konkrit, penggunaan metode, keterampilan guru dalam melontarkan pertanyaan kepada siswa, kemampuan guru dalam memberi motivasi, serta kemampuan guru dalam memahami perbedaan tingkat kemampuan siswa.
Siklus II
Melalui refleksi, penemuan, maupun hasil perbaikan pembelajaran pada siklus I peneliti telah berupaya menyusun dan melaksanakan rencana perbaikan pembelajaran siklus II. Dalam pelaksanaannya peneliti berupaya merancang dan melaksanakan proses pembelajaran dengan menitikberatkan pada usaha mengoptimalkan penggunaan permainan toss perkalijab.
Dalam kajian pustaka dijelaskan bahwa metode adalah cara yang digunakan dalam menyajikan bahan pelajaran untuk mencapai tujuan. Metode demonstrasi yang diterapkan peneliti dimaksudkan untuk menyajikan pembelajaran dengan cara memperlihatkan suatu proses terjadinya sesuatu hasil, yaitu dengan kegiatan siswa memasukkan manik-manik ke dalam lubang dakon sesuai kreatifitas siswa. Dengan demikian siswa kelihatan lebih aktif dan kreatif.
Media pembelajaran dipilih dengan mempertimbangkan pada tahap perkembangan anak usia SD kelas IV yang baru memasuki tahap Operasional Konkrit. Media pembelajaran yang digunakan adalah alat permainan toss perkalijab. Kartu-kartu toss perkalijab dari kerta ebal yang dibuat peneliti dan diberi gambar kartu yang unik sehingga anak lebih tertarik. Hal ini dimaksudkan untuk membangkitkan kreatifitas dan motivasi siswa. Kemudian kartu-kartu toss perkalijab tersebut digunakan sesuai dengan prosedur permainan yaitu melalui toss dan penggunaan media tersebut ternyata memberikan dampak yang cukup positif bagi keberhasilan siswa dalam menguasai konsep operasi perkalian. Dan ternyata setelah diadakan tes evaluasi hasilnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Terbukti bahwa dari jumlah 25 siswa yang memperoleh nilai tuntas sejumlah 22 orang dan masih ada 3 siswa yang belum memperoleh ketuntasan. Siswa yang masih belum memperoleh nilai tuntas tersebut disebabkan karena memiliki kemampuan di bawah rata-rata dibanding dengan temannya. Namun demikian guru tetap membimbing dan melatih. Pada akhir pelaksanaan siklus II sudah mencapai hasil yang cukup meningkat, pembelajaran lebih bermakna maka peneliti tidak melaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus berikutnya.
SIMPULAN DAN TINDAK LANJUD
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dengan melihat pada nilai rata-rata hasil tes siswa setelah melalui dua siklus, diketahui bahwa terdapat peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas IVB SDIT Rabbi Radhiyya Tahun Pelajaran 2015/2016 pada materi operasi hitung (perkalian), yaitu pada pra siklus 25 siswa yang mencapai ketuntasan minimal menjadi 13 siswa dengan persentase ketuntasan 64,8%, Pada siklus I setelah melaksanakan perbaikan di prasiklus terjadi peningkatan yaitu dari 25 siswa yang mencapai ketuntasan minimal menjadi 18 siswa dengan persentase 74,8% Selanjudnya setelah kebali merefleksikan pembelajaran pada siklus I kembali mengalami peningkatan pada siklus II mencapai ketuntasan minimal menjadi 80 % dari 25 siswa yang tuntas 22 siswa artinya terdapat peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika tersebut, Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa permainan toss perkalijab membawa hasil yang positif, terlihat meningkatanya pada hasil belajar siswa terutama pada pokok bahasan operasi hitng (perkalian) mata pelajaran Matematika siswa kelas IVB SDIT Rabbi Radhiyya Tahun Pelajaran 2015/2016.
B. Saran
Beberapa saran yang dapat diajukan adalah :
Bagi Guru
Harus selalu berusaha semaksimal mungkin menerapkan metode pengajaran yang telah ditetapkan dengan tanpa meninggalkan perhatiannyaterhadap latar belakang dan kemampuan siswa. Dalam setiap pembelajaran, khususnya pembelajaran matematika perlu adanya pendekatan, metode maupun strategi pembelajaran yang dapat menarik perhatian dan minat siswa yang hendaknya telah dipersiapkan oleh seorang guru sebelum melaksanakan proses belajar mengajar
Bagi Siswa
Tidak cukup hanya dengan mengandalkan kegiatan belajar di sekolah, sebagai siswa harus selalu aktif untuk mengembangkan kemampuan dalam segi apapun, selalu berlatih di rumah dan jangan pernah merasa takut dengan mata pelajaran matematik
DAFTAR PUSTAKA
AECT. 1977. The Definition of Education Technology. Edisi Indonesia dengan Judul Definisi Teknologi Pendidikan. Seri Pustaka Teknologi Pendidikan No 7. Jakarta: CV Rajawali
Aviantarani, Devi. 2011. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Antara Pembelajaran yang Menggunakan Alat Peraga dan Pembelajaran yang Menggunakan Media Powerpoint di SMP. Skripsi. Universitas Bengkulu
Dahar, Willis. 1998. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga
Danim, Sudarwan. 1995. Media Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Darsono, Max. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press
Hamalik, Oemar. 1999. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional
Rahadi, Aristo. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Sadiman, Arief S. 2002. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Winkel, W.S. 1983. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia
http://www.maksudkata.web.id/arti-kata-toss-bahasa-inggris indonesia.html diakses 1 November 2015
Langganan:
Komentar (Atom)